RD Yoskim Konis menelusuri jalan setapak melakukan kunjingan pastoralnya dari rumah ke rumah di setiap KUB
Metronewsntt.com, Kupang — Jalan setapak, lembah, semak belukar, dan rimbunnya pepohonan sama sekali tidak menyurutkan langkah RD Yoskim Konis. Pastor rekan Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kota Kupang, yang akrab disapa Romo Kim, dengan penuh semangat menyusuri medan penuh tantangan demi menjumpai umat Katolik di Stasi Santo Agustinus Bello, Senin sore (14/9/2026).
Tepat pukul 17.00 Wita, langkah kaki Romo Kim mulai menjejak kawasan Kelompok Umat Basis (KUB) Santa Maria Virgo. Dari satu rumah ke rumah lainnya, ia hadir menyapa, mendengarkan cerita kehidupan, mendoakan, hingga memberikan berkat langsung kepada setiap keluarga yang dikunjunginya.
Kunjungan pastoral ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan perayaan Hari Raya Penemuan Salib Suci yang diperingati umat Katolik sedunia pada 14 September. Momen ini memberi warna tersendiri bagi pelayanan Romo Kim, yang memilih untuk tidak hanya menunggu umat di kapela, melainkan hadir langsung di tengah denyut kehidupan keluarga mereka.
Sejumlah rumah umat terletak di balik lembah dan kawasan rimbun dengan akses jalan tanah serta setapak yang tidak mudah dilalui. Namun, didampingi oleh Ketua KUB Johnni Manehat, tokoh umat Stef Toasu, serta antusiasme sebagian besar warga, Romo Kim tetap berjalan dengan hati-hati mengenakan busana pastoralnya.
Bagi warga KUB Santa Maria Virgo, kunjungan tersebut menjadi pengalaman iman yang luar biasa dan berkesan karena gembala mereka datang menjumpai langsung ke beranda rumah. Warga tidak harus menunggu bertemu pastor di gereja, melainkan merasakan kehadiran Gereja yang turun tangan langsung menyentuh realitas hidup sehari-hari. "Salib tidak hanya dirayakan sebagai simbol iman di dalam gereja, tetapi juga dihidupi sebagai tanda pengharapan, kekuatan, dan kesediaan untuk berjalan bersama."
Melalui langkah sederhana di jalan setapak Bello, Romo Kim menegaskan bahwa kehadiran seorang imam adalah tentang mendengarkan, mendoakan, dan merangkul umatnya—memastikan bahwa setiap keluarga, di sudut mana pun mereka tinggal, tetap menjadi bagian terpenting dari kehidupan Gereja.(mnt/Goe)